Sapto Anggoro, CEO Tirto.ID,. memberikan orasi ilmiah dalam wisuda Stikosa-AWS.

Surabaya, barunih.com
Di era digitalisasi, kondisi media massa cetak menghadapi persaingan ketat dengan kemunculan media online. Masyarakat lebih mudah  mengakses informasi melalui internet.

Sementara gelombang digitalisasi media ditandai dengan beberapa hal. Pertama, jumlah pengguna internet yang terus meroket tajam, termasuk di Indonesia. Kedua, runtuhnya sejumlah media cetak, termasuk media-media legendaris dunia.

Sapto Anggoro, CEO Tirto.ID, saat membawakan orasi ilmiah dalam wisuda Sekolah Tinggi ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) menyampaikan menurut data dari APJII (Asosiasi Penyelenggrara Jasa Internet Indonesia), sejak 2018 pengguna internet Indonesia sudah mencapai 171 juta orang dari sekitar 260 juta populasi penduduk.

“Artinya sudah 65 persen penduduk Indonesia tersambung dengan internet,” kata Sapto dalam acara yang digelar di Dyandra Convention Center, Sabtu (30/11).

Dari jumlah ini, lanjut Sapto, pengguna dari kalangan anak muda merupakan porsi yang terbesar. Karena mereka merupakan generasi digital native yang sejak lahir sudah mengenal internet dan handphone.

Dalam orasi berjudul Cerdas Berkomunikasi di Era Digital, alumni Stikosa AWS ini mengakui, generasi seperti dirinya dan para orang tua wisudawan, bagian dari generasi immigrant technology yang tak pantas disebut milenial, malah diolok sebagai generasi kolonial.

“Para generasi kolonial ini, masih ditemukan membaca koran cetak. Sementara media cetak satu-demi satu pamit kepada pembacanya. Dan tutupnya media cetak tidak hanya terjadi di Indonesia tapi global,” jelas dia.

Disrupsi media tidak hanya melanda media cetak, tapi televisi nampaknya akan menjadi gelombang berikutnya. Data dari Adstensity, sebuah lembaga monitor iklan televisi, lanjut Sapto, belanja iklan televisi pada dari 2017 ke 2018 tumbuh 13,35 persen atau mencapai Rp 110,46 triliun. Sebelumnya hanya Rp 98 triliun.

“Berapa pertumbuhan 2019? Diprediksi maksimal 9 persen. Televisi sudah mulai digerogoti oleh iklan di Youtube dan platform video di media sosial yang menawarkan video on demand,” ungkap Sapto. (alf/udi)